Endless Qualm (Part 4 of 4)

Posted on Updated on

Title          : Endless Qualm

Author     : Bubbles

Cast(s)      : SHINee, OC

Length      : 4 Chapters

Genre        : Psy-thriller, angst, fluff, SI, SA

Rating      : NC17

Disclaimer   : I OWN this story and Choi HyeWook but not the other characters. I’m not in anyway to make any profits of this. SHINee belongs to theirself and SM Entertainment. Do not copy (without copyright) or steal it. If you try, I will sue. Oops, I mean I will kill you. Soon.

Part 4 of 4 : Escape

MinHo mengangkat dagu HyeWook dengan ujung kakinya.

“Perhatikan ini.”

MinHo menggoyangkan Magic Hole hijau milik HyeWook, gadis itu menatapnya cemas.

“Tidak ada Key, AppaEomma atau teman-temanmu.”

MinHo membuang ponsel HyeWook ke arah jendela.

PRAKK!

“Ouch, ponselmu sudah hancur, Chérie.”

MinHo menendang dada HyeWook kemudian menginjak lehernya.

“Hhh . . hh.”

HyeWook mencoba mengais oksigen di sekitarnya, tangannya memegang kaki MinHo, mencoba menyingkirkan dari lehernya. MinHo tergelak, ia semakin menekan kakinya ke leher HyeWook, membuat gadis itu mulai mencakar kakinya.

“Sekali lagi kau menemui Key, kupatahkan lehermu!”

***

“Hei, Princess!”

HyeWook membuka sebelah matanya, kesal.

“Sudah berapa kali kubilang untuk berhenti memanggilku Princess? Kau bodoh atau tuli, Tuan Kim?”

JongHyun mendengus, ia menggenggam pergelangan tangan HyeWook, menarik gadis itu ke perpustakaan. Terhuyung, HyeWook berusaha mengimbangi langkah JongHyun.

“Hei! Pelan-pelan!”

HyeWook separuh terseret, tubuhnya mulai limbung.

“JongHyun!”

HyeWook kehilangan keseimbangannya dan mendarat dengan mulus dalam dekapan JongHyun.

“Tuan Kim, bisakah kau bersikap sedikit lembut pada mentormu?”

“Dan bisakah kau segera menegakkan tubuhmu?”

HyeWook segera menegakkan tubuhnya saat rasa sakit itu tiba-tiba menyengat punggungnya.

“Auch!”

Ia mencengkeram lengan JongHyun.

“Ada apa?”

HyeWook menggeleng, sekarang ia yang menyeret JongHyun menuju perpustakaan.

“Bisa kita selesaikan lebih awal daripada kemarin?”

JongHyun menghentikan gerakannya.

“Kau tidak sehat?”

HyeWook mengangguk.

“Sedikit, maaf memotong waktumu.”

“Tidak masalah. Tidur saja kalau begitu.”

“Kau yakin tidak membutuhkan bantuanku?”

“Akan kubangunkan jika aku butuh.”

HyeWook meletakkan kepalanya di atas kedua lengannya, tak lama terdengar nafas teraturnya. JongHyun tersenyum kemudian menyelimuti HyeWook dengan hoodienya.

Nice dream, Princess.”

***

“Huh, baiklah. Jaga dirimu.”

JongHyun mengacak rambut HyeWook sebelum meninggalkan HyeWook sendirian. Ia sudah menyerah untuk mengajak gadis itu pulang bersama.

HyeWook melangkahkan kakinya, menjauh dari gerbang sekolah.

“Key, maaf.” desis HyeWook.

“Maaf untuk apa?”

HyeWook terlunjak, Key sudah menggenggam pergelangan tangannya. Gadis itu menyentak, Key menarik pinggang gadis itu, memeluknya.

“Katakan padaku, apa yang membuatmu ketakutan?”

“Lepaskan!”

Key mempererat pelukannya, membuat gadis dalam dekapannya kesakitan.

“Key, sakit!”

Key melepaskan pelukannya, HyeWook jatuh terduduk, ia merintih.

“Kau tidak apa-apa?”

Key berjongkok di depan HyeWook, gadis itu menggeleng.

“Jauhi aku, Key.”

“Kenapa? Untuk apa?”

“Aku tidak bisa menjelaskannya.”

“Aku tidak akan melakukannya sebelum mendengar penjelasan darimu.”

HyeWook kebingungan, ia tidak ingin Key tahu alasan yang sebenarnya.

“Karena Oppa . .”

“Ya? Ada apa dengan MinHo?”

HyeWook menelan ludah, menatap bola mata Key yang penuh tanda tanya.

Oppa akan . . .”

***

Key menatap miris bilur-bilur ungu yang menghiasi punggung dan lengan HyeWook.

“Mungkin akan sedikit nyeri saat aku menyentuhnya.”

Key mulai menggerakkan tangannya, mengoleskan salep ke bilur-bilur ungu di tubuh HyeWook. HyeWook meremas selimut tebal yang menutupi dadanya.

“Pelan sedikit, Key.”

“Maaf.”

Key menyelesaikan tugasnya dengan hati-hati kemudian mengelap tangannya.

“Apa kau tidak pernah mencoba mengatakannya pada orang tuamu?”

HyeWook menggeleng.

“Aku tidak mau mengambil resiko. Karena itu, jauhi aku.”

“Aku akan berbalik. Pakai seragammu!”

HyeWook segera memakai pakaian dalam dan seragamnya sebelum ia semakin kedinginan.

“Apa kau mau ikut denganku?”

“Eh?”

“Aku akan kembali ke NYC malam ini. Jika kau ikut, kau akan terbebas dari MinHo.”

“Tapi sekolahku?”

“Aku akan mengantarmu ke Swiss, dengan begitu Appamu bisa mengurusnya. Deal?”

HyeWook mengangguk, menjabat tangan Key.

“Baiklah, kita ke rumahmu. Mengambil paspor dan hal-hal yang kau perlukan.”

“Tidak perlu terburu-buru, Key. Oppa pulang pukul sembilan. Sekarang masih pukul lima.”

HyeWook membaringkan tubuhnya ke ranjang Key.

“Kau sudah tenang sekarang?”

Key mengelus kepala HyeWook dengan lembut.

“Sedikit.”

HyeWook menggenggam erat tangan Key, ia membutuhkan perlindungan dari Key.

“Aku akan melindungimu, tidak akan kubiarkan seseorang menyakitimu lagi.”

HyeWook tersenyum saat Key mengecup punggung tangannya.

“Penuhi janjimu, Key.”

***

MinHo mengetukkan Anycall Bodyguard hitamnya ke setir. TaeMin tidak masuk kuliah hari ini, ia khawatir jika terjadi sesuatu pada laki-laki mungil kesayangannya itu. Ia memencet beberapa tombol di handphonenya kemudian menempelkan di telinganya sambil berharap-harap cemas.

Yeoboseyo.” suara lembut seorang gadis menjawab panggilannya.

“Apa benar ini ponsel milik Lee TaeMin?” MinHo mencoba memastikan apakah ia memencet nomor yang benar.

“Ya, benar.”

“Bisa aku bicara dengannya?”

“Maaf, TaeMin sedang istirahat.”

“Apa ia sakit?” Kecemasan tertangkap dengan jelas dari nada bicara MinHo.

“Ya, ia sedikit demam.”

“Ng, baiklah. Terima kasih atas informasinya.”

MinHo menutup flipnya kemudian menggigit bibir bawahnya, kebiasaan yang sama dengan HyeWook ketika ia merasa khawatir.

TaeMin sakit dan tidak memberitahunya, apa laki-laki itu benar-benar kepayahan sampai meminta orang lain mengangkat teleponnya?

Tunggu, yang mengangkatnya seorang gadis, bukan? Seingat MinHo, TaeMin tidak memiliki Nuna.Jadi, siapa gadis yang mengangkat teleponnya tadi?

***

TaeMin menggerung pelan, tangannya masih melingkar di pinggang ramping gadis berambut ikal yang dijadikannya alas tidur barusan.

Yeobo.” erangnya.

Kim MinHyo menyisir lembut rambut cokelat terang milik TaeMin.

“Kau ingin apa lagi anak manja?”

TaeMin membenamkan wajahnya ke dada MinHyo, semakin mempererat pelukannya.

“Jangan pergi! Menginap saja di sini.”

“Eh?”

“Temani aku sampai sembuh.” rengek TaeMin seperti anak kecil yang tidak mau ditinggal Eommanya ketika pertama kali masuk Taman Kanak-kanak.

MinHyo tidak bisa menolak ketika TaeMin mulai beraegyo.

“Baiklah, aku tidak akan pergi.”

“Terima kasih.”

TaeMin menubruk bibir MinHyo lembut kemudian mulai melumatnya.

“Mmmh.”

MinHyo mencengkeram bahu TaeMin, membuat laki-laki itu memperbuas ciumannya.

“Tae-”

Langkah MinHo terhenti di depan pintu kamar TaeMin saat melihat laki-laki mungil itu berciuman dengan seorang gadis di atas ranjangnya. Tanpa berkata-kata, ia segera pergi sambil mematahkan flipnya.

MinHyo mendorong bahu TaeMin.

“Sepertinya tadi ada yang datang.”

“Mungkin hanya perasaanmu saja, yeobo. Tidak ada orang lain di sini.”

TaeMin kembali melumat bibir mungil MinHyo, membuat gadis itu mulai kehilangan kendali. Sebenarnya ia tahu MinHo yang datang, namun ia tak mau gadisnya tahu bahwa ia biseks. Dan soal MinHo, ia bisa mengurusnya nanti.

***

MinHo sangat membenci rasa yang mulai bergumul di dadanya, ia benci rasa sakit. MinHo menendang pintu rumahnya dan menemukan HyeWook baru saja meletakkan gagang telepon kembali ke tempatnya.

“Siapa yang barusan kau telepon?”

“Aku tidak menelepon siapapun. Eomma baru saja-”

“Key.”

“Eh?”

“Kau baru selesai menelepon Key, bukan?”

HyeWook menggeleng kuat-kuat.

“Aku bersumpah, tidak ada yang ku- KYAA!”

HyeWook tersungkur setelah sebuah vas menghantam kepalanya.

“Hmm, aku cukup berbaik hati untuk tidak mematahkan lehermu.”

MinHo meregangkan tubuhnya sebelum mengulas sebuah senyum lebar.

“Key yang akan menggantikanmu. ByeChérie. Doakan saja semoga pangeranmu tidak lekas mati.”

“JANGAN!”

MinHo membalikkkan badannya, menatap HyeWook heran.

“Kau berani membangkang, Chérie?”

“Patahkan saja leherku! Bunuh saja aku!”

“Wow, kau ingin menyelamatkan Key?”

“Lakukan apa saja padaku, tapi jangan ganggu Key!”

MinHo menghela nafas, mendekati HyeWook yang bersimpuh di parquet.

“Dengan senang hati.”

MinHo melayangkan kakinya ke kepala HyeWook hingga kepala gadis itu menghantam dinding. Darah segar mengalir dari dahinya.

“Ingin Key yang menggantikannya?”

HyeWook menggeleng.

“Huffh, keras kepala.”

DUAKH!

HyeWook terguling, kedua lengannya sudah dihiasi serpihan vas dan darah yang keluar dari luka-luka kecilnya. MinHo melepaskan beltnya, memutar-mutar sebentar sebelum melecutkannya ke punggung HyeWook.

“Sudah kubilang, jangan sampai ada lebam di badanmu.”

“Maaf.”

“Kau bodoh atau tuli, hah?”

MinHo menendang kepala HyeWook sekali lagi kemudian menginjak pipinya.

“Jangan pernah mengatakan kata maaf pada Choi MinHo!”

Ujung Converse MinHo menghantam dada HyeWook dengan mulus. Membuat HyeWook memuntahkan darah di sela-sela tangisannya. Tenggorokannya terasa tercekik dengan rasa anyir dari darahnya sendiri.

“Sudah merasa sakit?”

HyeWook tidak menjawab, seluruh tubuhnya terasa remuk.

Op . . pa.”

“Ya?”

MinHo mengangkat tubuh HyeWook yang sudah berlumur darah.

“A . . pa Op . . pa sa . . . yang pa . . da . . ku?”

“Tentu saja, kau hanya milikku satu-satunya.”

MinHo melemparkan tubuh HyeWook hingga membentur lemari buku di ruang tengah.

“Tapi kau bodoh, Chérie.”

MinHo menghampiri HyeWook yang hampir pingsan, mengangkat dagu gadis itu denganConverse putihnya yang sudah berubah warna.

“Karena itu aku membencimu sekarang. Kau terus mengulang kesalahan yang sama dan membuatku muak.”

MinHo menyeret tubuh HyeWook ke kamarnya, membiarkan setiap anak tangga yang dilewatinya menjadi kemerahan. Ia membaringkan tubuh HyeWook ke bathtub dan meninggalkannya ke dapur.

Dua ratus lima puluh gram garam ia tumpahkan ke tubuh HyeWook yang sudah menggelepar kesakitan. MinHo menyalakan shower air panas, membuat HyeWook menjerit-jerit seperti orang kesetanan.

“Nikmati waktumu, Chérie.”

Ia merunduk, mencium lembut bibir HyeWook.

Bye, love you.”

***

PRANGG!

“Heish!”

Key berjongkok, memunguti serpihan gelas yang berserakan di lantai dapur. Tanpa sengaja telunjuknya teriris, ia segera mengulumnya dan mencari kotak P3K. Matanya tertumbuk pada jam yang tergantung di dinding dapurnya. Pukul tujuh.

Key segera melompati pecahan gelas dan menyambar kunci mobilnya, ia harus segera menjemput HyeWook karena flight mereka pukul tujuh empat puluh lima. Ia memacu mobilnya cepat-cepat dan berhenti di depan sebuah rumah besar bercat krem.

Key berlari ke dalam rumah dan terbeliak melihat serpihan vas dan darah dimana-mana. Ia mengikuti jejak darah itu dan menemukan HyeWook yang sekarat dalam bathtub. Key mengangkat tubuh HyeWook dan menyentakkan telunjuknya yang tiba-tiba tersengat rasa sakit yang luar biasa.

“Garam? Sialan!”

Ia membaringkan tubuh HyeWook ke ranjang kemudian merogoh saku celana panjangnya.

“Key.”

HyeWook tersenyum saat melihat Key di sampingnya. Key menggenggam tangan HyeWook erat sambil memencet beberapa tombol di ponselnya.

“Dingin.”

Key membawa tubuh HyeWook ke dalam dekapannya, matanya memanas, hatinya terasa dicabik-dicabik melihat HyeWook yang begitu rapuh.

Yeo- aish!

Ponselnya lowbatt, ia harus segera membawa HyeWook ke mobilnya dan melarikannya ke rumah sakit terdekat. Key menatap wajah pucat HyeWook. Matanya membulat saat melihat garis putih yang mengikuti lengkung senyum gadis itu.

“HyeWook.”

Air mata Key membasahi pipi HyeWook, ia mengecup bibir dingin gadis itu.

“Maaf, aku tidak bisa memenuhi janjiku.”

***

Seorang laki-laki dengan hoodie putih dan topi pet keluar dari arrival gate dengan langkah gontai.

Eomma!”

Ia memeluk erat wanita paruh baya yang memakai mantel coklat dengan gembira.

“Kau baik-baik saja?”

Laki-laki itu mengangguk.

“Tampaknya kau sedang sedih. Apa yang terjadi?”

Wanita itu mengusap pipi putranya dengan lembut.

“HyeWook.”

“Ya? Ada apa dengannya?”

“Aku membunuhnya.”

Sekali lagi ia memeluk Eommanya.

“Ia selalu membangkang dan saat itu aku sedang kesal setelah melihat TaeMin bercumbu dengan pelacur menjijikkan itu. Aku sudah tidak punya mainan lagi sekarang.”

Wanita itu mengusap lembut punggung putranya.

“Tidak apa-apa. Ia sudah bahagia bersama Appa di surga.”

Appa sudah pergi?”

Eomma tidak sengaja memotong kabel rem dan menyebabkan mobil Appamu masuk ke jurang.”

Laki-laki itu menghela nafas.

“Jadi hanya kita berdua yang tinggal di rumah besar itu?”

Wanita itu menggeleng.

“Bertiga.”

“Dengan siapa?”

Mereka berdua mulai berjalan menuju pintu keluar airport sambil bergandengan tangan.

“Park SunJung, calon istrimu.”

Laki-laki itu tersenyum.

“Dan mainan baruku, bukan?”

~Fin~

22.06.10

12.44 p.m.

10 thoughts on “Endless Qualm (Part 4 of 4)

    Grade 1 Lesson 4 « House of Warriors said:
    June 17, 2012 at 3:57 AM

    […] Endless Qualm (part 4 of 4) […]

    […] Endless Qualm (part 4 of 4) […]

    KANEWJAE said:
    July 4, 2012 at 11:33 PM

    Astagaaaaa…….
    sumpah emosi aku bener2 naik

    vanflamighty said:
    October 31, 2012 at 9:09 PM

    What the….?
    Ah, Minho dan Eommanya psikopat -___-
    kesel banget, pdhal Minho Ultimate biasku D’X
    jd inget yg kelinci itu hiks –” sedih hyewook mati😦

    Savira Ramadhanti said:
    December 12, 2012 at 6:59 PM

    sereem sumpah -_-

    Lee Ri Chan said:
    December 31, 2012 at 10:09 AM

    Bener bener nih eomma ama anaknya sama sama PSIKOPAT!!!
    Sumpaah emosi gue thor!!

    taurusgirls said:
    February 13, 2013 at 3:09 PM

    Anak dan eommanya sama gilanya
    Issshhh bener² dehhh.. ><

    choi hyerin said:
    February 27, 2013 at 5:56 PM

    micheoseo…
    Ff tersadis dari segala ff…
    Minho oppa,Q ga nyangka karakternya hanya krn eommanya..

    indhk said:
    March 6, 2013 at 12:54 AM

    Bagus dan horror banget. Lututku sampe lemes bacanya. Good job author🙂

    Koukei-chan said:
    June 24, 2013 at 11:00 PM

    Ya ampun -,- ternyata pantesan minho psychopat.. orang emaknya juga gitu~ hadehh !! merinding amit2😮

Please leave your bow, Heroine.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s