Endless Qualm (part 2 of 4)

Posted on Updated on

Title        : Endless Qualm

Author   : Bubbles

Cast(s)    : SHINee, OC

Length    : 4 Chapters

Genre      : Psy-thriller, angst, fluff, SI, SA

Rating     : NC17

Disclaimer   : I OWN this story and Choi HyeWook but not the other characters. I’m not in anyway to make any profits of this. SHINee belongs to theirself and SM Entertainment. Do not copy (without copyright) or steal it. If you try, I will sue. Oops, I mean I will kill you. Soon.

Part 2 of 4 : Accost

Tawa MinHo meledak memenuhi mobil, ia terus terkikik sampai akhirnya menepikan mobilnya.

“Bagaimana kau bisa berpikir aku akan menjualmu, Chérie?”

MinHo menyusut air matanya. HyeWook meremas-remas ujung dressnya, mengigit bibirnya. Bingung.

Oppa tidak biasanya seperti ini, jadi-”

“Sssh, kau terlalu banyak menonton dorama. Mana mungkin aku menjualmu, Chérie.”

MinHo mendekatkan bibirnya ke telinga HyeWook.

“Kau terlalu berharga untuk kulepas.”

***

HyeWook menggamit lengan MinHo kuat-kuat. Udara pengap bercampur asap rokok dan bau alkohol  mengotori paru-parunya. Ia menatap sekelilingnya yang terasa mengerikan, puluhan pasang mata menatapnya kelaparan, menginginkan tubuhnya yang sehalus porselen. HyeWook menggigit bibirnya, gelisah dan ketakutan.

Oppa, untuk apa kita kesini?”

“Tentu saja untuk bersenang-senang.”

“Aku takut.”

“Takut? C’mon Chérie, kau bukan anak berumur lima tahun yang menjadikan taman ria sebagai tempatmu bersenang-senang.”

Seorang laki-laki yang sedikit lebih pendek dari MinHo dengan rambut hitam legamnya yang lurus, mata tajam dan tulang pipi yang agak tinggi berjalan mendekati MinHo dan HyeWook. Bibirnya yang kecil menyunggingkan senyum tipis yang lebih diartikan HyeWook sebagai sebuah seringai saat mata laki-laki itu menangkap sosok HyeWook yang sedang berdiri di sebelah MinHo dengan jantung yang berdegup kencang.

Hey, long time no see.

MinHo berhighfive dengan laki-laki itukemudian meninju bahunya.

“Angin apa yang membawamu kembali ke Seoul?”

Laki-laki itu tertawa.

“Apa ada yang peraturan yang melarangku kembali ke Seoul?”

HyeWook menggeser tubuhnya agar tertutup MinHo. Ia terlalu malu untuk berhadapan dengan laki-laki itu.

“Bisakah aku menitipkannya padamu?”

MinHo melirik HyeWook yang menunduk dan memegang ujung kemejanya.

“Tentu saja, aku akan menjaganya dengan baik.”

HyeWook terkejut saat MinHo memutar tubuhnya.

“Kau akan tetap di sini selama aku pergi.” bisiknya.

“Tapi Oppa . . .”

“Kau mau membangkang, Chérie?”

HyeWook menggeleng kuat-kuat.

Good girl. Ia akan menjagamu, mengerti?”

HyeWook mengangguk. MinHo mengecup bibirnya, lebih tepatnya menjilat darah yang keluar dari bekas gigitan HyeWook.

“Selamat bersenang-senang.” ucap laki-laki itu pada MinHo yang menjauh, kemudian ia menarik HyeWook, mengajaknya duduk di depan meja bar.

Kim Ki Bum atau yang akrab disapa Key, menatap HyeWook yang sedari tadi membuang muka. Ia berusaha untuk tidak menatap laki-laki di sampingnya. Key menggeser lutut HyeWook, membuat gadis itu berhadapan dengannya.

Jeoneun Key imnida.”

“Tidak perlu memperkenalkan diri padaku lagi. Aku bukan nenek-nenek pikun yang akan melupakan Op- uhm.”

Key menaikkan sebelah alisnya, ia tak suka jika HyeWook memanggilnya Key Oppa.

“Melupakanmu dalam dua belas tahun, Key.”

Key mengacak poni HyeWook gemas, tanpa sengaja ia menyenggol kasa yang melekat di dahi HyeWook.

“Kau terluka?”

HyeWook segera menyingkirkan tangan Key dari dahinya, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan karena ulah Key.

“Ya, aku terjatuh dari tangga tadi pagi.”

“Astaga! Bagaimana bisa?”

“Terlambat bangun, terburu-buru dan jatuh. Selesai.”

Geez, kau harus berhati-hati lain kali. Apa kau sudah ke rumah sakit?”

“Rumah sakit? Huh, jangan menghinaku karena Oppa seorang calon dokter.”

HyeWook melipat tangan di dadanya, menatap Key kesal.

Aigo, gadis kecilku mengamuk lagi.”

“Apa? Gadis kecil? Yeah, matamu benar-benar sudah dibutakan gemerlap NYC.”

Key tertawa melihat kedua pipi HyeWook yang menggelembung.

“Oh ya, kudengar kau sekarang hanya tinggal berdua dengan MinHo.”

“Hm, sejak setahun yang lalu. Appa danEomma memutuskan untuk pindah ke Swiss. Mereka tidak mengizinkanku untuk hidup sendiri di Korea lalu menyuruh Oppa tetap denganku.”

“Kau tidak berniat untuk menyusul?”

“Segera setelah aku lulus SMA.”

Key mengangguk. Ia mengulurkan tangannya pada HyeWook.

Wanna dance?

“Aku tidak bisa.”

“Akan kubantu, tidak sulit.”

HyeWook terdiam, ia lebih takut hukuman yang akan diberikan MinHo daripada mempermalukan dirinya di hadapan Key. HyeWook mengedarkan pandangannya, mencari sosok MinHo sebelum menyambut tangan Key. Ia menggandeng HyeWook menuju dancing floor, meletakkan kedua tangan gadis itu ke bahunya kemudian melingkarkan tangannya ke pinggang HyeWook. Detak jantung HyeWook semakin cepat saat tubuh Key mulai menghimpit tubuhnya.

“Apa kau baru pertama kali masuk ke diskotik?”

“Hm, tiba-tiba Oppa mengajakku.”

“Kau harus berhati-hati, jangan minum jika kau tidak kuat atau one night stand taruhannya.”

One night stand apa?” tanya HyeWook dengan ekspresi sama seperti anak kecil yang menanyakan darimana asalnya bayi.

Key tidak menyangka gadis di depannya ini masih terlalu polos untuk ukuran gadis berusia tujuh belas tahun. Ia mendekatkan bibirnya ke daun telinga HyeWook, membisikkan kata-kata yang membuat HyeWook membulatkan matanya.

“Benarkah?”

“Ya, beruntunglah kau tipe-tipe yang mereka sukai. Polos, memiliki kulit yang bagus, dan yang terpenting-”

Key menatap tajam bola mata HyeWook yang sedikit berair.

“Perawan.”

“Aish, jangan menakut-nakutiku Key!”

HyeWook mulai merapatkan tubuhnya pada Key.

“Aku tidak menakut-nakutimu. Lagipula kau sudah memperlihatkan punggungmu, pahamu dan kaki jenjangmu pada mereka.”

Oppa yang menyuruhku memakainya. Bahkan aku tidak tahu Oppa akan mengajakku ke tempat seperti ini.”

“Baiklah, kurasa kau tidak terlalu nyaman berada di sini.”

Key menggandeng HyeWook menuju lift dan menekan tombol tiga.

“Kita mau kemana?”

“Kau juga akan tahu sebentar lagi.”

Ting!

HyeWook mengekor Key menuju sebuah kamar. Key menggesekkan kartu sebelum menekan beberapa tombol dan membuka pintunya.

Come in.

HyeWook segera menjatuhkan tubuhnya pada sofa hitam yang terletak tak jauh dari sebuah ranjang besar.

VVIP room untuk exclusive one night stand.”

“A . . apa?”

HyeWook menegakkan tubuhnya.

“Ya, bahkan ada jacuzzi di balik pintu itu.”

Key menunjuk sebuah pintu  yang berada beberapa meter di sebelah kanan ranjang tempat Key berbaring.

“Alternatif selain sofa dan ranjang.”

HyeWook menelan ludah, ia merasa harus segera pergi dari tempat ini sebelum terjadi sesuatu yang buruk saat ia melihat Key melepaskan blazernya.

“Pakai ini, sepertinya kau kedinginan.”

Key melemparkan blazernya pada HyeWook.

“Terima kasih.”

HyeWook segera memakainya sambil mengutuki otaknya yang mulai berpikir sesuatu yang tidak-tidak tentang Key. Dua belas tahun telah berlalu, namun ia masih merasakan hal yang sama ketika berada dekat dengan Key.

Key mengisi setengah gelas tingginya dengan vodca, meneguknya sedikit. Ia menatap HyeWook yang memainkan ujung blazernya, sesekali menguap. Key menghampirinya, duduk kemudian menyandarkan kepala HyeWook ke bahunya.

“HyeWook.”

“Ya?”

Key menyesap vodcanya, menubrukkan bibirnya ke bibir HyeWook saat gadis itu mendongak. Ia menumpahkan sedikit vodca ke mulut HyeWook, memaksa untuk merasakannya. HyeWook nyaris memuntahkan cairan itu jika Key tidak membungkam bibirnya. HyeWook memegang bahu Key, alih-alih mendorong, ia malah meremas bahu Key. Membuat laki-laki itu mulai menggerakkan bibirnya, melumat bibir HyeWook perlahan.

Tidak ada alasan bagi HyeWook untuk menolak ciuman Key, jadigadisituhanya memejamkan mata dan menikmati setiap gerakan yang dibuat Key.

“Ehm.”

Key dan HyeWook tersentak, Key segera menjauhkan dirinya. HyeWook mengatur nafasnya yang tiba-tiba terasa sesak, ia menoleh dan mendapati MinHo dengan penampilan amat-sangat-berantakan, bahkan ia tidak pernah terlihat seperti ini saat bangun tidur sekalipun. Kemejanya kusut dan tidak dikancingkan, beltnya masih menjuntai, sepatunya hanya asal dipakai dan yang membuatnya membeliak adalah bercak-bercak merah yang ada di leher, dada, dan perutMinHo yang masih lembab oleh keringat.HyeWook segera menghampiri MinHo, khawatir.

“Kenapa Oppa bias begini?”

“Jangan khawatir, Oppamu tidak akan mati hanya karena kissmark.” kata Key sambil menahan tawa.

“He?Apa?”

Kissmark.” ulang MinHo tepat di depan wajah HyeWook.

Dongsaengmu terlalu polos, apa kau tak pernah mengajarinya?”

“Untuk apa mengajari sesuatu yang akan ia ketahui jika sudah saatnya nanti. HyeWook terlalu suci untuk mengetahuinya sekarang.”

***

“Kau suka saat Key menciummu?”

“Ah, eh, tidak.”

MinHo menepuk pahanya, HyeWook mendekat, duduk di pangkuannya.

“Bagaimana rasanya? Ceritakan padaku!”

MinHo mulai mengikat kaki HyeWook dengan tali sepatunya, membuat simpul mati.

“Ti . . tidak tahu, aneh.”

“Ciumannya lembut?”

“Aku lebih suka Oppa yang menciumku.”

Sekarang tangan HyeWook sudah terikat sempurna, gadis itu berulang kali menelan ludah memikirkan hukuman apalagi yang akan diterimanya.

Ppoppo.”

HyeWook mematuk bibir MinHo, gemetar.

Aigo, sekarang kau harus berendam dulu sebelum tidur. Tubuhmu berbau parfum Key.”

MinHo mengangkat HyeWook, membawanya masuk ke kamar mandi di kamar HyeWook. Memasukkannya ke dalam bathtub, menyalakan shower tepat menghadap wajahnya. Tetes-tetes air sedingin es mulai membasahi tubuhnya.

“Oh ya, tunggu sebentar.”

Tak lama MinHo datang membawa semangkok besar kubus-kubus es batu dan menuangkannya di atas kepala HyeWook.

“Lima belas menit untuk mendinginkan tubuhmu. Itu cukup, bukan?”

HyeWook mengangguk, giginya mulai bergemeletuk kedinginan.

“Pukul satu lebih lima belas, aku akan kembali.”

MinHo beranjak, menekan saklar sehingga ruangan itu gelap gulita kemudian menguncinya

Kegelapan adalah sebuah siksaan batin bagi HyeWook, gadis itu benar-benar ketakutan sekarang.

Isakannya mulai terdengar. MinHo yang setengah tertidur membuka sebelah matanya.

Chérie, kau menangis?”

HyeWook berusaha meredam isakannya, namun gagal. Bahunya terus berguncang, dadanya sesak, tubuhnya mulai mati rasa.

Oppa, keluarkan aku.”

“Keluar? Hmm.”

MinHo melirik jam tangannya.

“Baru tiga menit, Chérie. Uhm, baiklah. Akan kukeluarkan dua puluh lima menit lagi.”

HyeWook tercekat, dua puluh lima menit? Itu akan benar-benar membuatnya mati ketakutan.

“Nyanyikan sebuah lullaby untukku!”

HyeWook membuka mulutnya, namun yang terdengar malah suara seperti cicitan. Ia semakin panik saat MinHo mulai menambah waktu hukumannya. Semakin lama ia mencoba, suaranya semakin tipis. Sampai akhirnya MinHo menjatuhkan vonis terakhir.

“Satu jam. Kau boleh tidur jika mengantuk.”

***

HyeWook membuka matanya perlahan. MinHo masih terlelap dalam posisi memeluk tubuhnya.

“Nggh.”

HyeWook segera menggosok pelan pipi MinHo, menjaganya agar tidak terbangun.

“Kau sudah bangun?” tanya MinHo dengan mata masih terpejam.

“Hmm, Oppa tidur saja lagi.”

MinHo mempererat pelukannya pada tubuh polos HyeWook.

Oppa, aku harus bangun.”

MinHo menggerung manja, melepaskan pelukannya. HyeWook bangkit dan segera berpakaian. Ia menutup pintu kamarnya pelan-pelan kemudian berjalan ke dapur untuk membuat sarapan.

HyeWook menarik kursi makan, menghempaskan tubuhnya yang terasa seperti diinjak-injak. Kepalanya pusing, efek dari vodca Key dan rendaman MinHo tadi pagi. Ia menyentuh bibirnya, pipinya terasa panas mengingat kejadian semalam saat Key menciumnya.

Lamunan HyeWook terpecah oleh siulan ketel dan suara mesin pemanggang roti. Ia segera mematikan kompor dan menuangkan air panas sebelum menambahnya dengan air dingin. MinHo menyukai kopi hangat, lidahnya tidak terlalu tahan dengan makanan atau minuman panas. HyeWook mengambil dua helai roti tawar dari mesin pemanggang dan mengolesinya dengan selai cokelat, memotongnya menjadi empat bagian, menaburinya dengan sedikit keju dan memberi hiasan dua buah cherry. HyeWook membawa sepiring roti tawar dan segelas kopi ke meja makan. Ia harus membangunkan MinHo sebelum membuat sarapan untuk dirinya sendiri.

HyeWook menaiki tangga menuju kamarnya di lantai dua. MinHo masih lelap saat HyeWook mendekatinya.

Oppa,” bisik HyeWook lembut di telinga MinHo.

Statis. HyeWook mengulanginya sekali lagi, menggosok lembut bahu MinHo. Laki-laki itu bergeming, menatap HyeWook dengan mata yang masih setengah terpejam.

“Sarapan?”

HyeWook mengangguk. MinHo bangkit, mengucek matanya.

“Kopi dan toast?”

“Ya.”

HyeWook menggandeng MinHo ke dapur, membiarkan laki-laki itu duduk di ruang makan yang ada di samping dapur, sementara ia membuat sarapan untuk dirinya.

“CHOI HYEWOOK!”

HyeWook nyaris mengiris jarinya saat mendengar teriakan MinHo. Ia segera meninggalkan wortel dan paprikanya di atas talenan.

“Ada ap . .”

MinHo menyiramkan kopinya ke wajah HyeWook kemudian melempar gelasnya hingga membentur dinding dan hancur berkeping-keping.

“TOLOL! KAU MAU MELEPUHKAN LIDAHKU?”

MinHo menutup mulutnya dengan punggung tangan, menggosok lidahnya yang terasa nyaris melepuh dengan giginya. Tak hanya itu ia juga membanting piringnya tepat di atas kaki gadis itu. HyeWook meringis. Ia tidak berani mengeluarkan suara apapun yang bisa memancing kemarahan MinHo.

MinHo menjegal kaki HyeWook kemudian mendorongnya hingga gadis itu tersungkur. Lengannya menyerempet pecahan gelas. Darah segar mulai menetes dari lukanya. MinHo menghampiri HyeWook dan menendang pinggangnya.

“Lalu? Apa penjelasanmu?”

MinHo menginjak bahu HyeWook, membuat gadis itu telentang menghadapnya.

“Maaf.”

“Kau masih berani mengatakan kata menjijikkan itu?”

DUKK!

“Engh.”

MinHo menginjak dada HyeWook, menumpukan berat badan di kakinyanya, membuat gadis itu kesulitan bernafas.

“Apa otakmu sudah mulai membeku karena berendam tadi pagi?”

MinHo menendang kepala HyeWook, beruntung pecahan cangkir itu hanya menyerempet kulit ari pelipisnya. MinHo mengangkat tubuh HyeWook, menatapnya lekat-lekat.

“Bereskan dalam lima menit! Tidak ada sarapan dan tiga menit untuk bersiap, lebih dari itu, kau akan kukurung di gudang. Mengerti?”

***

HyeWook sedang mengompres kakinya dengan es batu ketika JongHyun menghampirinya.

“Apa lagi yang terjadi padamu?”

JongHyun berjongkok di depan HyeWook, mengamati kaki kirinya yang sedikit bengkak.

“Tidak apa-apa. Kau mau memulainya sekarang?”

JongHyun mengangguk.

“Lebih cepat lebih baik.”

HyeWook memakai sepatunya kemudian menggiring JongHyun menuju perpustakaan.

“Berapa soal yang harus kukerjakan?”

“Tiga ratus dalam seminggu.”

“APA? KAU MAU MEMBUATKU GILA?

JongHyun mendengus, menarik kursi dengan kasar hingga membuat suara gaduh. Lirikan tajam beberapa siswa dan petugas perpustakaan membuatnya segera menunduk.

“Protes saja pada JiSung Sonsaengnim, bukan aku yang membuat soal.”

“Mana mungkin aku menyelesaikan . . “

“Empat puluh dua.”

“Hem, ya. Empat puluh dua soal dalam sehari.”

“Tentu bisa, untuk apa Sonsaengnim menunjukku sebagai mentormu?”

“Ya, ya, ya. Aku kalah darimu, Princess.”

“Berhenti memanggilku Princess!”

JongHyun hanya mengendikkan bahu, membuka halaman ketiga buku soal di hadapannya. Oh great, proyeksi, trigonometri dan bangun ruang. Ia benar-benar tidak mengingat satu rumuspun dari ketiga bab itu. Matanya terarah pada HyeWook yang sedang membaca diktat Biologi.

“Apa? Kau lupa rumusnya?”

JongHyun mengangguk, membetulkan letak kacamatanya.

“Pakai ini!”

HyeWook memberikan sebuah buku bersampul kotak-kotak, catatannya saat kelas satu.

“Aku lebih suka jika kau mengajariku.”

HyeWook memutar bola matanya kemudian menggeser kursinya mendekati JongHyun.

“Mana?”

JongHyun menunjuk soal nomor satu.

“Bahkan kau tidak bisa mengerjakan soal nomor satu? Kau benar-benar pintar, Tuan Kim.”

“Cih, diam dan lakukan tugasmu!”

“Baiklah, perhatikan!”

***

MinHo mendengus, ia bukan tipikal orang yang bersedia menunggu lama untuk sesuatu yang diinginkannya. Tangannya sibuk mengutak-atik ponselnya, menelepon dan mengirim pesan singkat kepada nomor yang sama sejak sepuluh menit yang lalu.

Tiba-tiba pintu mobilnya terbuka, seorang laki-laki berambut cokelat terang menghempaskan tubuhnya ke jok sambil mendumal kemudian menutup pintu dengan kasar.

“Telingaku sudah nyaris tuli mendengar ocehan Mr. Sung. Memangnya ia tak pernah menjadi mahasiswa sebelumnya?”

MinHo terkikik mendengar gerutuan laki-laki itu. Lee TaeMin memutar kepalanya, menatap MinHo kesal.

“Belum lagi gangguan darimu, kalian berdua membuatku benar-benar ter- uh.”

MinHo membungkam bibir mungil TaeMin yang sedari tadi terus mendumal. Ia mengulumnya seperti permen dan mulai melumatnya perlahan. TaeMin mendorong bahu MinHo, ia sadar bahwa kampus bukan tempat yang tepat untuk memuaskan nafsunya.

“Kita tidak harus melakukannya di sini, MinHo~yah.”

“Aku sudah menunggumu terlalu lama.”

MinHo berpindah ke pangkuan TaeMin, mengatur joknya pada sudut seratus delapan puluh derajat. Ia mulai memberikan kecupan-kecupan ringan di leher TaeMin, memasukkan tangannya ke dalam t-shirt merah TaeMin.

“M . . MinHo~yah.”

TaeMin menggigit bibir bawahnya, bibir panas MinHo sudah membuat sebuah kissmark dibawah tulang selangkanya.

“Ya?”

MinHo mendongak, bibir basah MinHo mulai menggoyahkan pertahanan TaeMin.

“Ki . . kita tidak bisa melakukannya di sini.” TaeMin mengulang perkataannya.

“Kau tidak tahu hanya kita berdua yang tersisa di sini?”

“Eh?”

“Kau pulang paling akhir karena Mr. Sung.”

MinHo mengelus pipi TaeMin lembut.

“Tidak akan ada yang tahu, okay?”

TaeMin mengangguk.

“Kau mengizinkanku?”

“Ehm, ya.”

Ponsel MinHo berdering ketika ia akan memulai aksinya.

“Ponselmu?” tahan TaeMin.

“Biarkan.”

“Mungkin saja penting.”

“Tidak ada yang lebih penting daripada kau, TaeMinie.”

***

HyeWook menggelosor frustasi di depan gerbang sekolahnya. Ia menunggu MinHo sejak dua jam yang lalu, langit sudah gelap dan ia satu-satunya siswa yang masih bertahan di depan sekolah. Kulitnya memucat dan jari-jarinya mulai tidak terasa, puluhan kali ia menghubungi ponsel MinHo dan yang terdengar hanya suara operator,

“Nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif.”

HyeWook mulai berpikir dua kali untuk tetap tinggal dan mati kedinginan, akhirnya ia memutuskan untuk menyusuri trotoar dan mencari taksi.

Langkahnya sedikit timpang karena punggung kaki kirinya yang agak bengkak. Ia mulai menyenandungkan Gom Semari Ka, lagu favoritnya dan MinHo ketika masih kecil dan tidak brutal seperti saat ini.

Brutal? Perumpamaan halus yang digunakan oleh HyeWook untuk menggambarkan kelakuanOppanya yang seperti setan. Ia masih tidak habis pikir bagaimana Oppa kandungnya bisa berbuat seperti itu padanya.

Semua bermula sejak kedua orang tuanya pindah ke Swiss dua tahun lalu, kelakuan MinHo berubah seratus delapan puluh derajat. Awalnya HyeWook berani melawan, sampai MinHo mematahkan tangan kanannya. Sejak saat itu HyeWook sangat patuh pada MinHo. Ia sangat merindukan sosok MinHo sebagai kakak dan pelindungnya, bukan seorang psikopat seperti saat ini.

HyeWook mendecak kesal, tidak ada satupun taksi yang berhenti dan mengantarnya pulang. Ia menatap miris jam tangannya, pukul setengah delapan, waktu makan malamnya sudah lewat satu setengah jam yang lalu dan MinHo tidak akan memperbolehkannya makan, sekalipun hanya sebutir nasi. Great, maagnya akan segera kambuh dan membuatnya terjaga semalaman, setelah itu-

“Umghf!”

5 thoughts on “Endless Qualm (part 2 of 4)

    Grade 1 Lesson 4 « House of Warriors said:
    June 17, 2012 at 3:57 AM

    […] Endless Qualm (part 2 of 4) […]

    […] Endless Qualm (part 2 of 4) […]

    Lee Ri Chan said:
    December 31, 2012 at 9:29 AM

    Dasar Psikopat!! Ya allah hyewook sabar bangett ya, pengen gue bunuh tuh minho, sumpah thorrr
    aahh ffmu sukses buat aku emosi ><

    taurusgirls said:
    February 13, 2013 at 2:41 PM

    Selain psyco Minho jg gay??O.O
    Astagaaaa gilaaaaa minho bener² gila
    Hye wook kabur aja.. lapor polisi sekalian..

    aiueotale said:
    March 12, 2013 at 11:07 PM

    minho bikin aku geram ihh
    dia psikopat kenapa sihhhhhhh???

Please leave your bow, Heroine.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s