Fanfiksi Legal

Posted on Updated on

Narasumber :  Ambu Dian

Dalam wikipedia, awal keberadaan fanfiksi (Barat) dilukiskan dengan munculnya part 2 kisah Don Quixote. Mungkin di Timur, keberadaan fanfiksi sudah dimulai jauh sebelumnya. Buktinya saja, kisah Mahabharata dan Bharatayudha versi India—pendahulunya—berbeda dengan kisah tersebut yang beredar di wilayah Nusantara.

Fanfiksi modern, seperti apa  yang kita lihat sekarang, konon dimulai dengan fandom Star Trek. Fiksi-fiksi tulisan mereka itu terkumpul dalam fanzine-fanzine, yang dijual melalui pembelian pos atau saat dilaksanakan konvensi Science Fiction, dengan harga yang dimaksudkan hanya untuk menutup ongkos cetak saja.

Di dunia Timur, tahun 1960-1970 di Jepang juga sudah dikenal doujinshi. Berbeda dengan rekan sejawat mereka di Barat, para Mangaka di Jepang bahkan sering membentuk doujin grup, dari mana mereka bisa menjadi bibit-bibit baru untuk Mangaka generasi seterusnya.

Internet, telah menyumbang jasa dalam mengembangkan fanfiksi hingga seperti saat ini. Dengan adanya internet, jumlah fanfiksi berkembang pesat. Siapapun bisa membuatnya, dan mengunggahnya ke dunia maya.

Dan ini membawa konsekuensi.

Di dunia Barat, dalam pemerintahan demokrasi, adalah lazim jika sesuatu diselesaikan dengan hukum. Adalah lazim jika sedikit-sedikit orang mengatakan ‘I’ll sue you!’. Adalah lazim jika seseorang merasa khawatir akan dituntut oleh orang lain. Hukum sangat dijunjung tinggi dalam menyelesaikan suatu masalah.

Para penulis fanfiksi-pun merasa khawatir jika mereka akan dituntut oleh para pencipta asli dari buku/film/game yang mereka jadikan dasar untuk membuat fanfiksi. Ada beberapa tuntutan yang sudah sempat keluar—dalam hal ini di Amerika Serikat—pada fanfiksi yang sudah diterbitkan menjadi buku. Sila lihat di lema Fanfiction dan Legal issues with fan fiction di Wikipedia untuk rinciannya.

Dari Undang-Undang Hak Cipta yang berlaku di Amerika Serikat, kemudian dikenal penggunaan doktrinFair Use untuk melindungi para penulis fanfiksi.  Fair Use ini terdiri dari:

In determining whether the use made of a work in any particular case is a fair use the factors to be considered shall include:

 

            1. the purpose and character of the use, including whether such use is of a commercial nature or is for nonprofit educational purposes 

            2. the nature of the copyrighted work;  

            3. the amount and substantiality of the portion used in relation to the copyrighted work as a whole; and  

            4. the effect of the use upon the potential market for or value of the copyrighted work.[http://en.wikipedia.org/wiki/Title_17_of_the_United_States_Code]

Dengan demikian, selama fanfiksi digunakan hanya untuk kepentingan pribadi, kesenangan pribadi, tidak digunakan secara komersil, tidak digunakan untuk memperoleh keuntungan, maka fanfiksi di seantero wilayah Amerika Serikat beroleh perlindungan akan status legal. Fanfiksi tidak akan dituntut sebagai penyalahgunaan hak cipta.

Bagaimana dengan fanfiksi di Indonesia?

Walau kita bisa mengetahui bahwa nenek moyang kita sudah piawai membuat fanfiksi dengan Mahabharata dan Bharatayudha, fanfiksi modern baru masuk akhir-akhir ini saja. Seperti awal fanfiksi modern di Barat, awal perkembangan fanfiksi biasanya dimulai dengan tulisan pribadi, dan disimpan sendiri. Internet juga turut berjasa dalam melipatgandakan jumlah fanfiksi maupun penulis fanfiksi di Indonesia.

Apakah fanfiksi di Indonesia legal?

Mengikuti jejak fanfiksi dunia, maka kita harus melihat Undang-Undang Hak Cipta kita untuk bisa menyebutnya legal atau illegal, yaitu Undang-Undang Republik Indonesia no 19/2002.

BAB I

KETENTUAN UMUM

Pasal 1

Dalam Undang-undang ini yang dimaksud dengan:

1. Hak Cipta adalah hak eksklusif bagi Pencipta atau penerima hak untuk mengumumkan atau memperbanyak Ciptaannya atau memberikan izin untuk itu dengan tidak mengurangi pembatasan-pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.

2. Pencipta adalah seorang atau beberapa orang secara bersama -sama yang atas inspirasinya melahirkan suatu Ciptaan berdasarkan kemampuan pikiran, imajinasi, kecekatan, keterampilan, atau keahlian yang dituangkan ke dalam bentuk yang khas dan bersifat pribadi.

3. Ciptaan adalah hasil setiap karya Pencipta yang menunjukkan keasliannya dalam lapangan ilmu pengetahuan, seni, atau sastra.

4. Pemegang Hak Cipta adalah Pencipta sebagai Pemilik Hak Cipta, atau pihak yang menerima hak tersebut dari Pencipta, atau pihak lain yang menerima lebih lanjut hak dari pihak yang menerima hak tersebut.

5. Pengumuman adalah pem bacaan, penyiaran, pameran, penjualan, pengedaran, atau penyebaran suatu Ciptaan dengan menggunakan alat apa pun, termasuk media internet, atau melakukan dengan cara apa pun sehingga suatu Ciptaan dapat dibaca, didengar, atau dilihat orang lain.

6. Perbanyakan adalah penambahan jumlah sesuatu Ciptaan, baik secara keseluruhan maupun bagian yang sangat substansial dengan menggunakan bahan-bahan yang sama ataupun tidak sama, termasuk mengalihwujudkan secara permanen atau temporer.

dst.

 

 

BAB II

LINGKUP HAK CIPTA

Bagian Pertama

Fungsi dan Sifat Hak Cipta

Pasal 2

(1) Hak Cipta merupakan hak eksklusif bagi Pencipta atau Pemegang Hak Cipta untuk mengumumkan atau memperbanyak Ciptaannya, yang timbul secara otomatis setelah suatu ciptaan dilahirkan tanpa mengurangi pembata san menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.

dst

 

  

Bagian Keempat

Ciptaan yang Dilindungi

Pasal 12

(1) Dalam Undang-undang ini Ciptaan yang dilindungi adalah Ciptaan dalam bidang ilmu pengetahuan, seni, dan sastra, yang mencakup:

a. buku, Program Komputer, pamflet, perwajahan (lay out) karya tulis yang diterbitkan, dan semua hasil karya tulis lain;

b. ceramah, kuliah, pidato, dan Ciptaan lain yang sejenis dengan itu;

c. alat peraga yang dibuat untuk kepentingan pendidikan dan ilmu pengetahuan;

d. lagu atau musik dengan atau tanpa teks;

e. drama atau drama musikal, tari, koreografi, pewayangan, dan pantomim;

f. seni rupa dalam segala bentuk seperti seni lukis, gambar, seni ukir, seni kaligrafi, seni pahat, seni patung, kolase, dan seni terapan;

g. arsitektur;

h. peta;

i. seni batik;

j. fotografi;

k. sinematografi;

l. terjemahan, tafsir, saduran, bunga rampai, database, dan karya lain dari hasil pengalihwujudan.

dst

 

Pasal 15

Dengan syarat bahwa sumbernya harus disebutkan atau dicantumkan, tidak dianggap sebagai pelanggaran Hak Cipta:

a. penggunaan Ciptaan pihak lain untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah dengan tidak merugikan kepentingan yang wajar dari Pencipta;

b. pengambilan Ciptaan pihak lain, baik seluruhnya maupun sebagian, guna keperluan pembelaan di dalam atau di luar Pengadilan;

c. pengambilan Ciptaan pihak lain, baik seluruhnya maupun sebagian, guna keperluan:

(i) ceramah yang semata-mata untuk tujuan pendidikan dan ilmu pengetahuan; atau

(ii) pertunjukan atau pementasan yang tidak dipungut bayaran dengan ketentuan tidak merugikan kepentingan yang wajar dari Pencipta

dst

 

Pasal 56

(1) Pemegang Hak Cipta berhak mengajukan gugatan ganti rugi kepada Pengadilan Niaga atas pelanggaran Hak Ciptaannya dan meminta penyitaan terhadap benda yang diumumkan atau hasil Perbanyakan Ciptaan itu.

(2) Pemegang Hak Cipta juga berhak memohon kepada Pengadilan Niaga agar memerintahkan penyerahan seluruh atau sebagian penghasilan yang diperoleh dari penyelenggaraan ceramah, pertemuan ilmiah, pertunjukan atau pameran karya, yang merupakan hasil pelanggaran Hak Cipta.

(3) Sebelum menjatuhkan putusan akhir dan untuk mencegah kerugian yan g lebih besar pada pihak yang haknya dilanggar, hakim dapat memerintahkan pelanggar untuk menghentikan kegiatan Pengumuman dan/atau Perbanyakan Ciptaan atau barang yang merupakan hasil pelanggaran Hak Cipta.

 

 

 

Pasal 57

Hak dari Pemegang Hak Cipta sebagai mana dimaksud dalam Pasal 56 tidak berlaku terhadap Ciptaan yang berada pada pihak yang dengan itikad baik memperoleh Ciptaan tersebut semata-mata untuk keperluan sendiri dan tidak digunakan untuk suatu kegiatan komersial dan/atau kepentingan yang berkaitan dengan kegiatan komersial.

 

 

 

BAB XIII

KETENTUAN PIDANA

Pasal 72

(1) Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 49 ayat (1) dan ayat (2) dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).

(2) Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu Ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

(3) Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak memperbanyak penggunaan untuk kepentingan komersial suatu Program Komputer dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

(4) Barangsiapa dengan sengaja melanggar Pasal 17 dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).

(5) Barangsiapa dengan sengaja melanggar Pasal 19, Pasal 20, atau Pasal 49 aya t (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah).

(6) Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melanggar Pasal 24 atau Pasal 55 dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah).

(7) Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melanggar Pasal 25 dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah).

(8) Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melanggar Pasal 27 dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah).

(9) Barangsiapa dengan sengaja melanggar Pasal 28 dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 1.500.000.000,00 (satu miliar lima ratus juta rupiah).

Bisa dilihat di:

http://id.wikisource.org/wiki/Undang-Undang_Republik_Indonesia_Nomor_19_Tahun_2002

Dengan demikian, tindakan kita membuat fanfiksi, bisa dikategorikan melanggar Hak Cipta:

Pasal 2

(1) Hak Cipta merupakan hak eksklusif bagi Pencipta atau Pemegang Hak Cipta untukmengumumkan atau memperbanyak Ciptaannya

dengan mengunggahnya ke FFN atau situs sejenis. Baik fanfiksi yang bersumber dari buku, manga, anime, dll:

Bagian Keempat

Ciptaan yang Dilindungi

Pasal 12

(1) Dalam Undang-undang ini Ciptaan yang dilindungi adalah Ciptaan dalam bidang ilmu pengetahuan, seni, dan sastra, yang mencakup:

a. buku, Program Komputer, pamflet, perwajahan (lay out) karya tulis yang diterbitkan, dan semua hasil karya tulis lain;

b. ceramah, kuliah, pidato, dan Ciptaan lain yang sejenis dengan itu;

c. alat peraga yang dibuat untuk kepentingan pendidikan dan ilmu pengetahuan;

d. lagu atau musik dengan atau tanpa teks;

e. drama atau drama musikal, tari, koreografi, pewayangan, dan pantomim;

f. seni rupa dalam segala bentuk seperti seni lukis, gambar, seni ukir, seni kaligrafi, seni pahat, seni patung, kolase, dan seni terapan;

g. arsitektur;

h. peta;

i. seni batik;

j. fotografi;

k. sinematografi;

l. terjemahan, tafsir, saduran, bunga rampai, database, dan karya lain dari hasil pengalihwujudan.

Akan tetapi, sebagaimana ada penambahan doktrin fair use/penggunaan wajar pada Undang-Undang Hak Cipta Amerika Serikat, Undang-Undang Hak Cipta Republik Indonesia pun memiliki penambahan:

Pasal 15

Dengan syarat bahwa sumbernya harus disebutkan atau dicantumkan, tidak dianggap sebagai pelanggaran Hak Cipta:

a. penggunaan Ciptaan pihak lain untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah dengan tidak merugikan kepentingan yang wajar dari Pencipta;

b. pengambilan Ciptaan pihak lain, baik seluruhnya maupun sebagian, guna keperluan pembelaan di dalam atau di luar Pengadilan;

c. pengambilan Ciptaan pihak lain, baik seluruhnya maupun sebagian, guna keperluan:

(i) ceramah yang semata-mata untuk tujuan pendidikan dan ilmu pengetahuan; atau

(ii) pertunjukan atau pementasan yang tidak dipungut bayaran dengan ketentuan tidak merugikan kepentingan yang wajar dari Pencipta

dst

Dalam hal ini, pertunjukkan bisa diartikan: menunjukkan, mengumumkan, dalam hal ini lagi, mengunggahnya ke situs semacam FFN atau sejenisnya, untuk dilihat banyak orang. Perhatikan:tidak dipungutbayaran

Ditekankan sekali lagi:

Pasal 57

Hak dari Pemegang Hak Cipta sebagai mana dimaksud dalam Pasal 56 tidak berlaku terhadap Ciptaan yang berada pada pihak yang dengan itikad baik memperoleh Ciptaan tersebut semata-mata untuk keperluan sendiri dan tidak digunakan untuk suatu kegiatan komersial dan/atau kepentingan yang berkaitan dengan kegiatan komersial.

Dengan demikian, fanfiksi bisa digolongkan sebagai legal.

Bagaimana dengan mereka yang membuat fanfiksi untuk dijual?

Para penulis fanfiksi jelas-jelas menggunakan sesuatu yang ber-hak cipta. Jika ia menulis fanfiksi dari fandom Naruto, misalnya, pada saat ia mendeskripsikan Naruto dari Konoha, ia sudah menggunakan hak cipta kepunyaan Masashi Kishimoto. Jika ia menulis fanfiksi tentang Hermione di Hogwarts, maka ia menggunakan hak cipta JK Rowling. Dan seterusnya.

Ada beberapa penulis yang terbuka pada para penulis fanfiksi. Contohnya misalnya, JK Rowling. Dengan perkecualian bahwa ia sangat menyayangkan ada fanfiksi yang mengeksplorasi seksualitas, ia sangat senang bahwa ada banyak orang yang biasanya tak menulis, jadi mulai menulis karena mereka ingin menulis fanfiksi. Akan tetapi, tentu saja, hak cipta Harry Potter itu tetap berada di tangan JK Rowling. Tidak ada seorangpun yang bisa menjual fanfiksi Harry Potternya.

Hal ini sudah semestinya disadari oleh semua penulis fanfiksi. TIDAK ADA FANFIKSI YANG BISA DIPERJUALBELIKAN sebelum memperoleh ijin tertulis dari pemegang hak cipta (Masashi Kishimoto untuk fandom Naruto, JK Rowling untuk fandom Harry Potter, dan seterusnya).

Bagaimana dengan fanzinedoujinshi, dan semacamnya?  Selalu ingat prinsip: tidak untuk dikomersilkan (pasal 57 UU Hak Cipta). Penjualan fanzinedoujinshi, dan sebagainya, biasanya dilakukan terbatas (melalui self-publish dengan pemesan hanya dari forum/grup tertentu, atau dijual pada saat tertentu: pameran, konvensi, dll) dan dengan harga yang hanya untuk menutupi ongkos cetak. Dengan kata lain, tidak untuk memperoleh keuntungan. Biasanya, selain Disclaimeryang ditulis pada setiap fanfiksi (juga fanmanga, fananime, fanart, fanvid, dll), juga dicantumkan:Untuk Kalangan Terbatas.

Dengan demikian, penerbitan fanfiksi di penerbit umum, untuk dijual di kalangan umum, dan bertujuan untuk memperoleh keuntungan (baik penulis dengan royalti, maupun penerbit) telah melanggar Undang-Undang Hak Cipta. Sila lihat saja ancaman pidananya di atas.

Jika kita memang merasa sudah piawai menulis, mengapa harus menerbitkan fanfiksi yang jelas-jelas melanggar hukum? Sudah bisa menulis fanfiksi tentu akan bisa juga menulis fiksi orisinil. Tuliskan cerita asli dan orisinil, lalu terbitkan. Tak ada pasal-pasal yang dilanggar.

Juga para penerbit, bukalah wawasan seluas-luasnya, tak lupa untuk selalu berpegang pada hukum Indonesia.

Mari kita menulis fanfiksi dengan hati, bukan dengan iming-iming royalti.

Majulah fanfiksi Indonesia!

——-

Sumber bacaan:

1. Wikipedia

2. Wikisource

Please leave your bow, Heroine.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s