Beberapa Kebiasaan Buruk dalam Menulis

Posted on Updated on

Setiap orang bisa menulis, itu benar. Namun, tentunya tidak semua orang menulis dalam level yang sama dengan yang lainnya. Kualitas sebuah tulisan, atau paling tidak apakah tulisan itu enak dibaca, juga tidak dapat dilihat hanya dari usia, gender, latar belakang pendidikan, status sosial, bahkan pemahaman seorang penulis terhadap topik yang ia tulis. Jam terbang tentunya cukup menentukan. Namun lebih daripada itu, ada satu hal lain yang tak kalah penting, yaitu bagaimana sikap penulis terhadap pembaca. Seorang penulis tidak bisa hidup tanpa pembaca. Bahkan dikatakan ketika sebuah tulisan diterbitkan (apa pun medianya), maka tulisan itu bukan lagi menjadi milik penulis, melainkan milik pembaca. Itulah yang disampaikan Roland Barthes dalam karyanya “Dead of the Author“. Lebih dalam lagi, sastrawan almarhum Pramoedya Ananta Toer dalam berbagai kesempatan malah menyebut menulis sebagai sebuah tugas sosial. Saat menulis, seseorang harus menyadari bahwa ia menulis untuk melayani masyarakat (pembaca), jadi pembaca adalah yang utama. Paradigma ini sangat perlu ditanamkan di benak mereka yang ingin menjadi penulis yang baik. Anda bisa menyajikan tulisan yang baik jika tulisan Anda:

1. menghormati pembaca;

2. berbicara dengan pembaca;

3. tidak berbelit-belit.

Meski demikian, nyatanya banyak orang yang masih sering gagal membuat tulisan yang menarik minat pembaca. “Saya memiliki banyak pemikiran untuk dibagikan yang sering saya tulis dan saya sebar di milis-milis. Namun, jarang ada yang merespon, malah ada di antara mereka yang salah mengerti atas apa yang ingin saya sampaikan,” keluh seorang rekan. Rekan saya tersebut memang suka menuliskan ide-idenya. Namun, ternyata dari tulisannya sering terlihat beberapa hal tak perlu yang selalu ia lakukan dan selalu ia ulang. Hal-hal tersebut mungkin sepertinya kecil, tapi jika dilakukan berulang-ulang dan bahkan menjadi kebiasaan, yang kecil itupun menjadi sesuatu yang besar. Kebiasaan-kebiasaan itu adalah sebagai berikut.

 Tidak Peduli Pada Pembaca

Penulis sering lupa kalau ia bukan menulis untuk dirinya sendiri. Untuk itu, langkah sederhana yang dapat dilakukan adalah dengan memakai kata “Anda”, “kau”, dsb. dalam porsi tepat untuk menciptakan kedekatan/interaksi antara penulis dan pembaca. Selain itu, bicaralah pada pembaca seakan Anda mengobrol dengan mereka. Ini tidak berarti berbicara dengan gaya bahasa santai seperti orang mengobrol, namun memakai pernyataan langsung dan kata kerja aktif yang memperjelas siapa sedang berbicara dengan siapa.

Bicara dengan pembaca juga berarti menggunakan kalimat-kalimat yang sederhana. Jika Anda berpikir bahwa memakai kata-kata yang rumit dan “berbusa-busa” akan membuat pembaca tertarik, Anda salah. Dalam menulis, tujuan Anda adalah untuk menjelaskan, bukan untuk membuktikan bahwa Anda lebih pintar dari pembaca. Manusia memang memiliki dua macam bahasa. Bahasa lisan yang biasanya lebih sederhana dan bahasa tulisan yang biasanya lebih panjang. Pakailah bahasa yang sederhana untuk membuat pembaca lebih cepat menangkap makna yang ingin disampaikan. Sebaliknya, saat memakai kalimat- kalimat panjang, Anda akan memaksa pembaca untuk menerjemahkan kalimat panjang dan rumit itu ke bentuk yang sederhana. Ini juga yang dilakukan copywriter dalam dunia periklanan. Mereka akan memakai kata-kata yang paling memiliki daya persuasif (menggoda/ membujuk/memikat) untuk menarik perhatian pembaca. Kata-kata itu sering kali sederhana seperti “ya”, “gratis”, “dijamin”, “baru”, dll. Di beberapa tempat, dalam penulisan yang melibatkan opini, penggunaan kata “saya” dilarang. Namun sebenarnya, kata “saya” malah bisa dipakai untuk lebih memberi kesan lugas. Sementara kata “kita” dalam sebuah penulisan opini akan memiliki kesan mendominasi, mengklaim, dan memaksa pembaca menuruti pendapat penulis. Pada akhirnya, yang tak kalah penting adalah bersikaplah jujur, jangan berlebihan. Sekali pembaca menangkap kalimat Anda yang berlebihan, kalimat-kalimat Anda berikutnya akan dicurigai.

 Pamer

Sama halnya dalam pergaulan, penulis yang suka pamer tidak akan memiliki banyak pembaca. Kebiasaan pamer ini biasa berwujud penggunaan kata-kata sulit yang tak perlu untuk satu makna yang sebenarnya mudah. Penggunaan kata-kata sulit (namun tak tepat), misalnya terdapat ketika menyebut seorang sebagai pemimpin “karismatis” hanya karena pemimpin itu memiliki penampilan fisik yang menarik dan murah senyum. Hal serupa juga terjadi pada kebiasaan pemakaian kata-kata bahasa asing atau istilah teknis yang sebenarnya tak harus dipakai. Memang kata-kata teknis, bahasa asing, atau kata-kata sulit tidak dilarang untuk dipakai. dan jika memang harus dipakai, untuk menghindari kesan pamer itu perlu dibuat sebuah standar untuk tulisan. Jika Anda tergabung dalam sebuah institusi (misalnya di sebuah kantor jasa), standar itu berguna untuk menetapkan apakah Anda akan memakai kata klien, konsumen, pelanggan, dll. untuk menyebut mereka yang memakai jasa institusi Anda. Standar ini pun bisa ditetapkan jika Anda menulis mewakili pribadi, namun sekali lagi dengan mengingat bahwa Anda menulis untuk pembaca.

Terjebak dalam klise/jargon

Kata-kata klise atau jargon dapat membuat pembaca bosan dan muak. Di zaman Orde Baru ada kata-kata atau istilah seperti “pembangunan”, “nusa dan bangsa”, “era tinggal landas”, dsb. yang sangat sering diucapkan bahkan dalam konteks yang tidak selalu tepat. Hal ini juga bisa ditemui dalam bidang-bidang khusus lainnya.

Kebiasaan ini bisa disebabkan karena beberapa hal. Pertama, penulis merasa nyaman dengan hal itu sehingga tak menyadarinya lagi. Kedua, kata-kata klise sering tidak disadari. Dalam beberapa hal, kata yang trendi atau yang sedang dibicarakan banyak orang (untuk saat ini misalnya: reformasi, indie, dll.) bisa berpotensi menjadi klise. Jadi, setiap periode waktu tertentu memiliki kata klisenya sendiri. Bahkan pemberian tanda petik dalam kata yang klise juga tidak banyak membantu. Malah dengan melakukannya, Anda seakan sedang menggarisbawahi kekurangan Anda sendiri. Untuk jargon, (misalnya, istilah “gereja yang injili” yang sering dipakai dalam artikel tentang penginjilan) sering kali dipakai tanpa memberikan kejelasan makna. Jika memang ingin memakainya, sebaiknya jelaskan artinya, kalau tidak, lupakan. Penulis yang baik adalah penulis yang rajin menggali dan memperkaya perbendaharaan kosakatanya.

Selip kata

Salah ketik, salah pelafalan, kurang tanda baca (tanda koma, tanda titik, tanda tanya, dsb.) atau pemakaian tanda baca yang tidak tepat, subjek dan predikat yang tidak cocok, penempatan kata yang salah, dan penggunaan kalimat menyangatkan (superlatives) yang ditandai oleh kata-kata beratribut ter-, paling, dsb. tanpa didukung alasan yang kuat adalah kebiasaan yang dapat membuat pembaca merasa terganggu.

Kurang jelas dan kurang lengkap

“Aku tidak memberitahu, aku tidak menjelaskan, aku menunjukkan,” itulah nasihat Tolstoy. Untuk menghindari kebiasaan membuat tulisan yang kurang jelas dan lengkap ini, diperlukan keterampilan dalam membuat deskripsi. Ketimbang menyebut sesuatu baik/buruk sehingga membuat tulisan terkesan tendensius, lebih baik tunjukkan kebaikan atau keburukan itu dengan penggambaran yang mendukung. Biarkan pembaca mengintepretasikannya sendiri. Saat Anda ingin menulis sebuah cerita dengan seorang tokoh yang punya karakter pemarah, jangan beri tahu pembaca bahwa “dia” pemarah, tapi tunjukkan sifat tersebut. Perhatikan contoh berikut. “Lelaki itu datang ke perkebunan sambil membawa sekop, lalu menggaruk-garuk tanah hingga tanaman yang tumbuh di atasnya berantakan. Sang pemilik datang dengan mengacungkan parangnya kemudian berusaha mengusir lelaki itu sembari mengancam akan melaporkannya ke polisi. Bukannya takut, lelaki itu malah menghampiri sang pemilik kebun. Matanya menyipit karena marah, lalu meludah sebelum mengatakan kalau dia tidak takut pada polisi. “Kamu pikir polisi berani padaku?” tanyanya sambil mendengus kesal. “Aku tak sabar menunggunya.” Lelaki itu tersenyum meremehkan, ia menendang pot bunga yang ada di dekatnya dan kembali mengacungkan sekopnya ke arah pemilik kebun. “Katakan pada mereka, kalau aku menunggunya di sini,” teriaknya. *)

Dari penggambaran di atas, terlihat kalau sang lelaki itu bukan saja pemarah, tapi juga seorang pengacau. Tidak perlu dikatakan kalau dia pengacau, tapi pembaca akan tahu secara lebih jelas kalau lelaki itu pengacau melalui penggambaran yang ditulis. Lengkap dan jelas juga tidak berarti panjang. Pascal pernah menulis surat, “Maaf karena merepotkan Anda dengan tulisan yang panjang mengingat saya tidak punya waktu untuk menulis yang pendek.” Menulis secara singkat dan lengkap memerlukan waktu. Hindari juga terlalu banyak menulis singkatan dan akronim, kecuali Anda yakin bahwa pembaca akrab dengan singkatan atau akronim tersebut.

Tidak menghargai

Tindakan yang tidak menghargai pembaca maupun orang lain, misalnya terlihat dari kalimat-kalimat yang mengandung stereotipe, pukul rata, dan mengandung bias. Untuk menghindari hal itu, jika memungkinkan, mintalah penilaian dari pembaca pertama (keluarga atau teman) sebelum memublikasikan tulisan. Akan lebih baik lagi jika mereka itu termasuk dalam golongan target pembaca Anda. Jangan marah atau tersinggung jika pendapat mereka tidak sesuai dengan harapan Anda.

Sumber : PDF E-Penulis

Please leave your bow, Heroine.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s